Monday, May 20, 2013

Persahabatan Kue Mangkok dan Sirup Frambozen


Kamu adalah sahabat pertama yang pernah kumiliki
Aku ingat kapan aku memutuskan hal itu
Terlalu jelas
Seakan baru terjadi kemarin

Suatu siang di Cinere
Dua anak perempuan bertelanjang kaki
Dua anak perempuan kesayangan Eyang Putri
Dua anak perempuan yang usianya hanya terpaut 26 hari

Si kriwil yang liar senantiasa tenggelam dalam gelak tawa
Segalanya lucu bagi bocah itu padahal belum lagi ia fasih bicara
Berlari ia, ke sini dan ke sana
Tersungkur jatuh, nyengir sejenak dan kembali menjelajah

Si mungil bermata besar tak mengerti mengapa si keriting selalu pamer gigi
Atau mengapa ia berlari ke sana ke mari
Si mungil bermata besar selalu melangkah hati-hati
Tak mau tersandung, jatuh apalagi

Lalu salah satu Tante favorit dua bocah ingusan itu mengetuk pintu
Dua bocah kecil menyambut buru-buru
“Aku punya kue mangkok dan sirop dingin!” ujar perempuan itu merdu
Satu kue mangkok untukku, satu kue mangkok untukmu

Sirup frambozen yang merah menggoda lalu dituang ke dalam gelas mungil
Tanpa basa-basi kamu raih gelas itu dan menenggaknya habis
Lalu kamu tersenyum lebar di depan mukaku, memamerkan gigi yang seadanya
Manusia kecil yang menyebalkan

Itu baru awalnya
Awal dari begitu banyak keisengan yang kamu arahkan padaku
Awal dari begitu banyak masa-masa menyenangkan yang kita bagi
Awal dari persahabatan yang tiada dua

Kamu ada bersamaku sejak kedua kaki ini baru belajar melangkah
Kamu ada bersamaku ketika imajinasi membuat kita bisa ke mana saja, melakukan apa saja
Ingatkah mi kuning yang kita buat dari benalu Tali Putri?
Ingatkah semua madu yang kita hisap dari bunga-bunga pagoda?

Kamu ada ketika anak laki-laki mulai jadi menarik
Kamu ada ketika teman-teman di sekolah membuatku sedih
Ingatkah semua malam yang kita habiskan untuk mengobrol
saat kita sudah siap tidur, di balik selimut dengan lampu yang telah lama padam?

Ketika mulai remaja pertemuan kita menjadi jarang, namun tak berarti renggang
Segala hal penting akan tetap kita bagi
Kisah jatuh cinta dan patah hati
Musibah dan rejeki, prestasi dan mimpi

Kita bersama-sama belajar untuk melihat dunia dengan apa adanya,
meski dengan dua pasang mata yang berbeda
Rahasia yang kita bagi, rahasia yang kita simpan
Denganmu aku selalu punya sekutu, dunia tak lagi buatku ragu

Kamu adalah sahabat pertamaku
Ketahuilah bahwa kamu adalah salah satu manusia terpenting dalam hidupku
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku
Nestapamu adalah nestapaku

Tujuh tahun lalu dengan mata berbinar kamu bercerita tentang Elvin
Laki-laki gondrong, bertindik, dengan tangan penuh gelang
Laki-laki yang membuatmu tak bisa berhenti tersenyum
Laki-laki yang tak doyan berpura-pura dan sepenuhnya mencintai ketidakwarasanmu

Mengenalkan laki-laki yang berhasil mencuri hati selalu jadi ritual kita
Setelahnya pria-pria malang itu kita bahas habis-habisan
Mengenal Elvin, aku mengerti mengapa senyummu tak kunjung hilang
Bersamanya kamu temukan dirimu, alasan untuk semakin merayakan hidupmu

Elvin yang sudah tidak lagi gondrong akan menikahi si kriwil kesayanganku
Bocah yang 27 tahun lalu merebut sirop frambozenku akan mengucap janji sehidup semati
Ia telah memilih, ia telah dipilih
Apa yang telah dipertemukan oleh Semesta tidak untuk dipisahkan oleh manusia

Semoga hari ini segenap Alam Raya mendengar doaku
Semoga sahabatku mendapatkan awal terindah untuk sisa hidupnya
Semoga Elvin selalu tahu betapa luar biasa perempuan yang dinikahinya
Semoga kebahagiaan dan cinta jadi milikmu, Muthiara

Selalu



Andini Haryani
Houston, 7 Mei 2013


Monday, April 22, 2013

Kabar Baik dari Laut Mentawai

Belum juga pertengahan tahun dan banyak sekali tragedi yang terjadi. Banjir Jakarta, bom di Boston, ledakan pabrik pupuk yang menghancurkan sebuah kota kecil di Texas Barat jadi headline yang bikin murung hingga bulan keempat di tahun 2013. Tetapi sebuah keajaiban terjadi di laut Mentawai beberapa hari lalu. Satu jiwa lolos dari maut setelah 27 jam dirajam kegagahan laut.

Satu jiwa itu adalah milik Brett Archibald, pria kebangsaan Afrika Selatan yang bersama sekelompok temannya mendatangi Mentawai untuk berselancar dan merayakan ulang tahun salah satu anggotanya. Kelompok ini sudah melakukannya berkali-kali. Mereka bukan anak kemarin sore. Brett sendiri usianya 51 tahun, memiliki seorang istri dan 2 orang anak yang tidak ikut ke Indonesia.

Dengan kapal bernama Naga Laut mereka berlayar dari Padang ke Mentawai setelah menikmati hidangan khas Minangkabau di Padang. Perut Brett ternyata tidak cocok dengan hidangan kesayangan kita ini, sehingga semalaman ia tidak bisa berhenti muntah dan ke kamar kecil. Malang bagi Brett, di satu titik ia begitu lemas sehingga hilang kesadaran ketika bersandar pada sisi kapal dan jatuh ke laut. Ketika ia akhirnya sadar, kapal yang membawanya sudah berlayar semakin jauh dan tak terjamah. Kabarnya peristiwa ini terjadi kira-kira di pukul 4 pagi. Pukul 8 pagi, ketika hendak sarapan seluruh isi kapal baru sadar kalau Brett hilang.

Mentawai ramai dengan kapal seperti Naga Laut yang membawa peselancar-peselancar untuk menjajal ombak di sana. Kapal-kapal ini laksana hotel mengapung. Seketika saja kabar tentang hilangnya Brett disebar ke kapal-kapal lain. Serentak upaya pencarian dilakukan meski seakan mencari jarum di tengah jerami karena tidak ada yang tahu persis di mana Brett jatuh atau pukul berapa. Pencarian dilakukan berdasarkan arah dan kekuatan angin, serta doa dan harapan untuk keselamatan laki-laki itu. Laut Mentawai dikenal garang.

Salah satu kapten kapal yang menolak untuk menyerah mencari Brett adalah Tony 'Doris' Eltherington. Ketika malam tiba dan kondisi laut menjadi semakin tidak menentu, Tony tetap tidak mundur. Ia tidak hendak membiarkan anak-anak Brett kehilangan ayah mereka. Setelah malam panjang berlalu tanpa membuahkan hasil, insting Tony mendadak mengatakan bahwa mereka perlu mengarahkan pencarian semakin ke utara dan ia membelokkan kapalnya ke arah itu. Tidak lama kemudian awak kapal mendapati kepala botak Brett yang sudah terbakar matahari dan lengannya yang putih melambai-lambai di udara. Ia selamat meski selama 27 jam dikitari hiu, disengat ubur-ubur, diserang burung camar, terbakar matahari, dan dehidrasi. Manusia itu selamat. Anak-anak dan istrinya terlepas dari nestapa.

Tony adalah teman yang aku kenal ketika mendapat tugas liputan luar kota untuk pertama kalinya dari majalah Tamasya. Ia sudah seumur orangtuaku, tetapi jiwanya tidak sehari lebih tua dari 21 tahun. Beberapa hari lalu ia menyelamatkan seorang manusia dan hari ini ia hendak pulang sejenak ke Australia untuk bertemu keluarganya, 3 anak dan 3 cucu. Manusia ini luar biasa, meski ia tidak berusaha jadi luar biasa. Aku berani bertaruh kejadian ini tidak akan merubahnya barang sedikit. Dan hal itu yang selalu membuatku menaruh hormat padanya. Hal itu yang membuatku bisa berteman dengannya.

Di tengah kegelapan dan kesedihan, kejadian ini membuktikan kalau kemanusiaan masih ada dan nyata. Orang baik bukan legenda, mereka masih ada di antara kita, bahkan kita bisa jadi mereka.

Berikut adalah petikan wawancara majalah Stabmag dengan Tony Eltherington:

As the True World Thunders By






Monday, December 31, 2012

Tentang 2012

Tahun 2012 dalam rangkuman:

Mereka yang berlalu..

Oreo

Cipi

Menghabiskan waktu bersama:

Keluarga rantau

Literacy Advance of Houston


Teman-teman rantau


Teman-teman instruktur yoga

Menonton:

Cirque du Soleil

Red Hot Chili Peppers

Perjalanan-perjalanan seru:

Berenang bersama whaleshark di Mexico!

Menyelam di Honduras

Berkemah di Padre Island, Texas

Tamasya ke Los Angeles, California

Membantu Aris mengumpulkan sampel batuan di Texas Barat

Menjelajah Taman Nasional Big Bend, Texas

Mengendarai sepeda gunung di berbagai tempat indah di Texas

Memasak (baru tahun ini saya benar-benar bisa menikmati serunya memasak):

Bubur Ketan Hitam - Ternyata mudah sekali!

Nasi Uduk Betawi dan teman-temannya

Kue cokelat untuk hari Natal
Tahun ini kami memilih tidak pulang ke Indonesia. Rindu setengah mati, tetapi tahun depan akan segera tiba dan Tanah Air akan dijejak kembali! 

Selamat tahun baru 2013!





Tuesday, December 18, 2012

Doa untuk Kemanusiaan - Mengingat Tragedi Sandy Hook

Baru empat hari yang lalu terjadi tragedi luar biasa di Sandy Hook Elementary School di sebuah kota kecil bernama Newton di negara bagian Connecticut, Amerika Serikat. Tembakan membabi buta oleh seorang pria membunuh 20 orang anak, 6 orang dewasa, mengguncang Amerika Serikat dan membuat dunia tercengang. Air mata tertumpah, hati tercabik. 

Ingatan akan kejadian itu masih terus membuat saya merinding dan segera saja mata akan tergenang. Jiwa-jiwa yang hilang, keluarga-keluarga yang remuk hati, ketakutan yang terbentang, doa-doa yang tersebar. Hidup penuh misteri. Kejadian seperti ini membuktikannya.

Saya tidak punya kata-kata bijaksana. Saya hanya ingin menyatakan betapa luar biasa memilukannya kejadian ini. Betapa saya sangat berharap kejadian ini tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi lagi. Pikiran ini tidak bisa lepas dari semua keluarga dan lingkungan yang kehilangan anak-anak mereka, kehilangan orangtua mereka, kehilangan guru mereka, kehilangan teman mereka. Semoga Semesta memberikan mereka secercah kedamaian di tengah prahara ini. Semoga mereka yang kehilangan diberi kekuatan untuk terus melanjutkan hidup dan semua yang pergi diberi ketenangan dalam tidur abadinya. 

Saya ingin berdoa untuk kemanusiaan. Saya ingin berdoa untuk setiap manusia. Semoga ketika harus memilih, kebaikan akan senantiasa mengalahkan kejahatan. Semoga ketika harus memilih, cinta akan senantiasa mengalahkan benci. Semoga ketika harus memilih, manusia terus ingat bahwa ia sungguh punya pilihan. Semoga kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi, di manapun, kapanpun, kepada siapapun. 

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails